Selasa, 15 Maret 2011

MENGAPA KITA MESTI MENCINTAI RASULULLAH ?

Oleh : Husein Shahab
“YA RASULULLAH, sungguh engkau lebih kucintai daripada diriku dan anakku,“ kata seorang sahabat suatu hari kepada Rasulullah Muhammad SAW.“ Apabila aku berada dirumah, lalu kemudian teringat kepadamu, maka aku tak akan tahan meredam rasa rinduku sampai aku datang dan memandang wajahmu. Tapi apabila aku teringat pada mati, aku merasa sangat sedih, karena aku tahu bahwa engkau pasti akan masuk ke dalam surga dan berkumpul bersama nabi-nabi yang lain. Sementara aku apabila ditakdirkan masuk ke dalam surga, aku khawatir tak akan bisa lagi melihat wajahmu, karena derajatku jauh lebih rendah dari derajatmu.”
Mendengar kata-kata sahabat yang demikian mengharukan hati itu, Nabi tidak memberi sembarang jawaban sampai malaikat Jibril turun dan membawa firman Allah berikut :
Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah; yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (QS. 4:69)
Cinta kepada Nabi seperti yang dapat kita simpulkan dari riwayat di atas memiliki implikasi yang sangat luas, baik secara teologis, psikologis dan sosiologis bahkan secara eskatologis sekalipun. Dalam sebuah hadis,  Nabi pernah bersabda bahwa keimanan seseorang harus diukur dengan barometer cintanya kepada Nabinya. La yu’minu ahadukum hatta akuna ahabba ilaihi min nafsihi…” Tidak beriman seseorang sehingga aku (Nabi) lebih ia cintai ketimbang dirinya sendiri…”
Mencintai Rasulullah menjadi sebuah keharusan dalam iman. Ia menjadi prinsip, bukan opsi atau pilihan yang notabenenya adalah mau atau tidak. Sesorang Muslim harus menyimpan rasa cinta kepada Nabinya, seberapapun kecilnya. Idealnya ia mencintainya lebih dari segala sesuatu yang ia miliki, bahkan dirinya dan itulah pada hakikatnya iman yang paling sempurna. Cinta memang duduk sebagai sebuah landasan untuk mengetahui siapa Muhammad SAW. Karena itu cinta akan menjadi sebagai pengantar yang membawa kita bisa mengenalnya lalu kemudian mencerminkan diri padanya. Untuk mengenal Muhammad memang kita harus memulai dengan membaca riwayat hidupnya. Data-data historis tentang Muhammad pasti menyimpan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga. Namun yang harus kita ingat bersama adalah jangan mengukur kesalehan Muhammad hanya lewat deskripsi historis semata-mata. Sebab data-data historis tersebut tidak lebih dari sebuah deskripsi lahiriah yang kurang sarat dengan substansi “keilahian” Muhammad SAW. Sementara keagungannya justru ada pada maqam keilahiannya yang sangat tinggi seperti yang sering kita dengar dalam sebuah doa tentangnya, “wa ib’atshu maqamam mahmudalladzi wa’adtahu…”
Ketinggian maqam Muhammad tentu bukan hal yang mudah untuk diketahui. Bahkan hampir-hampir mustahil. Namun dengan melihat hadis berikut mungkin saja bisa mengantar kita untuk sedikit mengetahui siapa itu Muhammad lewat lisannya sendiri.
Nabi SAW bersabda “Aku adalah Ahmad tanpa mim (m)”. Ahmad tanpa mim (m) akan berarti ahad (Esa), yang merupakan sifat Allah yang sangat unik. Mim yang merupakan simbol personafikasi dan manifestasi Allah dalam diri Muhammad pada hakekatnya adalah bayangan Ahad yang ada di alam semesta. Mim adalah wasilah antara makhluk dengan Khaliqnya. Mim adalah jembatan yang menghubungkan para Kekasih Allah dengan Sang Kekasihnya yang mutlak. Dengan kata lain Muhammad adalah mediator antara makhluk dengan Allah SWT. Dialah mazhar al-Haq atau tempat kebenaran dan realitas Allah menampak di dunia ini. Dialah “Zahirnya Allah di tengah makhluk-makhluk-Nya. Dialah aktivitas Allah yang dapat dilihat manusia dengan matanya, karena Allah SWT sendiri tak dapat dilihat . Iqbal berkata, Duhai Rasul Allah Dengan Allah aku berbicara melalui tabirmu Denganmu tidak, Dialah Batinku,  Dikaulah Zahirku.
Menurut Iqbal, Muhammad benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” Allah dalam kehidupan manusia. Dialah “Zahir”nya Allah; dialah Syafi’(yang memberikan syafaat, pertolongan dan rekomendasi) antara makhluk dengan Tuhannya. Ketika anda ingin merasakan kehadiran Allah dalam diri anda, hadirkan Muhammad. Ketika anda ingin disapa oleh Allah, sapalah Muhammad. Ketika anda ingin dicintai Allah, cintailah Muhammad. Qul inkuntum tuhibbunallah fat tabi’uni  yuhbibkumullah, “Apabila kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku (Muhammad) kelak Allah akan cinta kepada kalian.” Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cinta, berkorban dan bermohon untuk selalu bersamanya, di dunia dan akhirat. Sebab seperti kata Nabi, “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya.”
Bukankah setiap kali kita mencintai sesuatu maka kita akan mencari tahu segala hal yang berkaitan dengannya. Bahkan mungkin kita ingin menghadirkannya selalu dalam liku-liku hidup kita. Bila anda mencintai Imam Khomeini, misalnya, maka untuk cinta itu anda akan melakukan banyak hal seperti menyimpan posternya, buku-bukunya, artikel-artikel yang ditulis tentangnya bahkan mungkin namanya. Cinta memang laksana air mengalir yang memindahkan seluruh sifat dan karakter si kekasih kepada kita yang mencintainya.
Manfaat Cinta kepada Nabi Muhammad
Ketika Allah mewajibkan umat manusia untuk mencintai Nabi Muhammad SAW, maka instruksi tersebut jelas bukan sebuah perintah tanpa tujuan. Karena mustahil Allah akan memerintahkan sesuatu yang sia-sia. Tetapi tujuan tersebut juga bukan sesuatu yang kepentingannya akan kembali kepada Allah atau Rasul-Nya, karena Allah SWT Mahakaya dari butuh pada sesuatu, dan Rasul-Nya juga tidak butuh pada interest tertentu. Dengan demikian mencintai Rasulullah adalah sebuah perintah yang manfaatnya semata-mata untuk kepentingan manusia itu sendiri. Lalu, apa manfaat dari mencintai Rasulullah ?
Ada manfaat yang instant dan ada juga yang jangka panjang. Diantara manfaat yang segera kan kita rasakan adalah terpautnya hati ini pada pribadi Muhammad SAW. Apabila kita jujur dalam mencintai Muhammad, maka hati kita akan merindukan Muhammad; sama persis seperti tokoh kita diatas merindukan Rasulullah. Bedanya adalah dia bisa mengobati rindunya dengan mendatangi Muhammad secara langsung. Sementara kita mengobati rindu dengan hanya menyebut-nyebut namanya. “Barang siapa mencintai sesuatu maka dia akan menyebut-nyebutnya.”  Kata Imam’Ali bin Abi Thalib kw.
Apabila kita jujur dalam mencintai Muhammad, maka jiwa kita akan terbentuk dan tercermin pada jiwa Muhammad SAW. “Bukti cinta adalah mendahulukan sang kekasih di atas selainnya,” begitu kata Imam Ja’far Ash-Shadiq.
Apabila kita jujur mencintai Muhammad, maka kita akan berupaya mencari tahu segala sesuatu tentang dirinya; kehidupan pribadinya, kehidupannya dalam keluarga, dengan sesama saudara, dengan lingkungannya, dan lain sebagainya. Apabila kita ingin mengetahui sejarah Muhammad dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pribadi manusia yang agung ini, hendaklah diawali dengan rasa cinta terlebih dahulu. Apabila sudah tertanam rasa cinta, maka akan timbul sikap sungguh-sungguh untuk mengetahuinya secara akurat dan mendalam. Pengetahuan yang tidak dilandasi pada dasar cinta akan berakibat rancu, setengah-setengah dan kurang sempurna. Dari situ kita akan mengetahui mengapa Allah SWT mewajibkan kita untuk mencintai Muhammad SAW, bahkan sebelum kita mengetahuinya sekalipun.
Di antara manfaat jangka panjang dari rasa cinta kita pada Muhammad SAW adalah seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam surat yang kita kutip di atas; bahwa dia kelak akan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang saleh. Bahkan dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda :
Cinta padaku dan cinta pada Ahli Baitku
akan membawa manfaat di tujuh tempat
yang sangat mengerikan : di saat wafat, di
dalam kubur, ketika dibangkitkan, ketika
pembagian buku-buku catatan amal, di
saat hisab, di saat penimbangan amal-amal
dan di saat penitian shirat al-mustaqim
Cinta Murni dan Cinta Semu
Ada dua jenis kategori cinta. Pertama, cinta yang berakhir dengan kebosanan. Untuk ini kita sebut saja dengan cinta semu. Kita cinta pada dunia, harta, anak-istri dan sebagainya. Cinta kita pada mereka tidak selamanya meluap-luap bak api membara. Ada saatnya cinta kita redup, bahkan kadang-kadang mati sama seklai. Kita mencintai nak kandung kita. Tapi apabila tiba-tiba dia durhaka pada orangtua, maka cinta bisa berbalik murka. Kita cinta pada dunia kita, yang halal tentunya. Tapi kadang-kadang timbul kebosanan sedemikian rupa sehingga kita meninggalkannya secara total. Cinta seperti ini adalah cinta semu, sebuah cinta yang berakhir pada kebosanan.
Kedua, cinta murni. Jenis cinta ini adalah cinta yang senantiasa hangat dan membara. Dengan cinta itu dia mengejar kekasihnya, melakukan sesuatu karena kekasihnya, bahkan mau mati semata-mata karena kekasihnya. Cinta seperti ini adalah cinta yang tidak pernah bosan dan berakhir. Cinta murni adalah sebuah cinta yang terbit untuk Allah SWT. Imam Ali berkata : “Cinta pada Allah adalah api yang membakar segala sesuatu yang dilewatinya.” Karena cinta pada Allah, maka orang-orang mukmin mau mati di jalan-Nya. Cinta pada Allah memang bisa membakar setiap usaha yang menghalanginya.
Imam Al-Shadiq berdoa : Ya Sayyidi, aku lapar dan tidak pernah kenyang dari mencintai-Mu; aku haus dan tidak pernah puas dari mencintai-Mu. Oh… betapa rindunya pada Dia. Yang melihatku tapi aku tidak melihat-Nya…
Tentu cinta pada Allah adalah sejenis cinta murni. Tidak terselubung di dalamnya rasa benci, enggan dan murka. Cinta pada Allah adalah cinta pada kemutlakan; cinta yang tidak bertepi dan tidak berujung. Tapi bagaimana dengan cinta pada Muhammad SAW ?  apakah cinta kepada Muhammad yang diwajibkan Allah kepada kita adalah sejenis cinta semu atau cinta murni. Nabi SAW bersabda :
“Cintailah Allah karena nikmat yang telah dianugerahkan-Nya pada kalian, cintailah aku karena cinta Allah (padaku) dan cintailah Ahli Baitku karena cintaku pada mereka”.
Dalam hadis yang lain beliau bersabda :
“Tidak beriman seorang hamba sehingga aku lebih ia cintai daripada dirinya sendiri dan itrah (keluarga)-ku lebih ia cintai ketimbang keluarganya…”.
Melihat hadis ini dan hadis-hadis sejenis yang lain terasa bahwa tuntutan untuk mencintai Muhammad dan keluarganya bukan sejenis cinta semu yang kapan pun boleh hilang atau dihilangkan. Secara vertikal, ketika kita mencintai mereka sebenarnya kita juga mencintai Allah dan ketika kita membenci mereka kita pun membenci Allah.
Imam Ali bin Abi Thalib kw berkata :
“Sesungguhnya agama Allah tidak akan bisa dikenali dari pribadi-pribadi, tetapi akan dapat dikenali dari tanda-tanda kebenarannya. Kenalilah kebenaran maka engkau akan mengetahui siapa penganutnya.”
(Bihar Al-Anwar, jus 68 hal.120)


Link  :  http://buletinmitsal.wordpress.com/

RASULULLAH SAW : MANUSIA ILAHI


Oleh : Syaikh Jawadi Amuli
Manusia wajib mencintai Rasul SAW lebih dari yang lain, bahkan dari egonya sendiri. Allah SWT menyebutkan sifat-sifat baik dari manusia yang dicintainya,Sesungguhnya Allah SWT mencintai orang-orang yang bertobat, dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri (QS. Al-Baqarah : 222). Allah juga mencintai ahli takwa, Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa (QS. At-Taubah : 4). Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya yang berbaris seperti bangunan yang kokoh (QS. Ash-Shaff : 4). Tetapi yang paling dicintai sekali oleh Allah adalah Muhammad SAW karena ia adalah penjelmaan Dirinya (mazhar) yang sempurna (untuk semesta alam). Al-Quran memberi isyarat, Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad)(QS. Ali-Imran : 31).
Para pecinta kekasih Allah akan menjadi kekasih Allah. Mereka yang mencintai  Rasul SAW akan berusaha menyamainya (begitu pula dengan Rasulullah SAW yang mencintai Allah sehingga ia menjadi manusia Ilahi). Ia sangat menghamba-Nya sedemikian rupa sehingga ia manusia Ilahi.
Anas bin Malik mengatakan, “Pernah datang seorang Arab pegunungan menemui Rasulullah SAW dan bertanya, ‘Kapan kiamat terjadi?’ Pertanyaan itu diajukan ketika waktu shalat tiba. Rasulullah SAW menjawab, ‘Tanyakan pertanyaan itu ketika selesai shalat.’ Usai shalat, Nabi SAW bertanya, ‘Memangnya apa yang telah engkau persiapkan?’ Orang Arab itu menjawab, ‘Aku bersumpah kepada Allah aku tidak mempersiapkan dengan shalat dan puasa yang banyak namun aku hanya punya kecintaan kepada Rasul.’ Kemudian Rasulullah SAW mengatakan, ‘Orang itu akan bersama orang yang dicintainya.’ Anas mengatakan, Aku belum pernah merasakan kegembiraan yang dirasakan oleh orang-orang Muslim dengan kata-kata ini.”
Imam Baqir mengatakan, “Suatu hari Rasulullah SAW mengatakan di tengah-tengah umatnya, Cintailah Allah karena Dia  telah menyediakan jamuan jasmani dan ruhani kalian. Cintailah aku karena Allah karena aku adalah wadah pancaran cahaya karunia-Nya, dan cintailah Ahlul Baitku karena mereka adalah perantara antara aku dan kalian.”
Dalam sebuah hadis yang mata rantainya disebut dengan Silsilah adz-Dzahab(silsilah emas) dari Amirul Mukminin Ali Kw mengatakan, “Seorang laki-laki Anshar datang menemui Rasulullah SAW sambil mengatakan, ‘Aku tidak bisa berpisah dengan Anda. Ketika aku mau memasuki rumah dan tempat kerja, aku teringat dengan Anda. Karena itu aku berangkat untuk menemui Anda sebab aku mencintai Anda. Aku membayangkan kelak di hari kiamat Anda pasti masuk ke surga, ke tempat  yang termulia, sementara aku bagaimana?”Saat itu turunlah ayat, “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”(QS. An-Nisa : 69). Kemudian Rasulullah SAW meminta orang itu mendekatinya dan beliau membacakan ayat itu sebagai kabar gembira untuknya.
Rasulullah SAW mengatakan, “Seorang hamba belum sempurna imannya kecuali kalau ia lebih mencintai diriku dibanding dirinya sendiri dan keluargaku lebih dicintai daripada keluarganya sendiri dan Ahlul Baitku lebih dicintai daripada Ahlul Baitnya sendiri dan diriku lebih dicintai dari dirinya.”
Rasulullah SAW adalah Akal Semua Manusia
Eksistensi Rasulullah SAW adalah akal munfashil seluruh manusia. Allah SWT mengatakan, “Dialah yang telah mengutus seorang rasul ke tengah-tengah masyarakat yang ummi.” (QS. Al-Jumuah : 2) dan ….juga ke tengah-tengah masyarakat Mukmin (QS. Ali Imran : 164). Allah telah menganugerahkan kepada orang Mukmin dengan mengutus dari kalangan mereka seorang rasul. Bahkan juga untuk para malaikat karena para malaikat adalah murid-murid manusia sempurna. Manusia sempurna adalah tajalli Allah SWT. Manusia yang akil (rasional) selalu berusaha menundukkan  quwwah tahriki (fakultas sensasi) dengan quwwah idrak (fakultas perseptif) dan quwwah idrak yang lebih rendahnya akan menyerah pada quwwah ‘aliyah-nya (fakultas yang lebih tinggi).
Imam Ali Kw mengatakan, “Jika terjadi bencana, jadikan hartamu sebagai pembela jiwamu dan jika terjadi sesuatu yang membahayakan agamamu maka serahkan jiwamu demi agamamu.”
Seorang manusia semestinya lebih mendahulukan akal munfashil-nya yaitu Rasulullah SAW sebelum akal muttashil menyatu dengannya. Seperti halnya ketika terjadi hal-hal yang membahayakan sehingga quwwah tahriki (fakultas stimulasi) dan idraki (persepsi)nya menjadi korban fakultas kognitif (intelektual). Dan, semua manusia seharusnya mau mengorbankan dirinya demi Rasulullah SAW, walaupun di tengah-tengah mereka masih hidup orang-orang bijak dan pintar, karena manusia-manusia bijak itu bagi Rasulullah SAW tidak lebih dari anggota tubuhnya. Nabi SAW adalah akal universal manusia. Manusia mana pun tidak memiliki hak untuk memilih fakultas lain selain akalnya.
Ibaratnya ketika manusia menemui kekeliruan panca indra maka akallah yang harus menjadi hakimnya, demikian juga sahabat-sahabat Rasulullah SAW harus menyerahkan segala keputusan kepada Rasulullah SAW. Jadi suara semua fakultas manusia adalah, “Kalau tidak ada akal maka celakalah kami”atau dengan bahasa hidupnya, “Kalau tidak ada Al-Quran dan Rasul, maka celakalah kami.”
Al-Quran memberi isyarat tentang keharusan mempertaruhkan jiwa demi membela Rasulullah SAW, “Tidak pantas bagi penduduk Madinah  dan orang-orang Arab Badui yang berdiam  di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak pantas (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada (mencintai) diri Rasul.” (QS. At-Taubah : 20). Seorang manusia tidak boleh mementingkan dirinya sehingga menjauh dari Rasulullah SAW karena Rasulullah  adalah nyawanya dan siapa pun harus menyadari bahwa jiwa Rasul SAW lebih penting dari jiwanya. Ia tidak boleh membiarkan Rasulullah SAW dalam situasi bahaya. Nabi itu lebih utama dari diri kaum mukmin. Annabiyyu awla bilmu’minina min anfusihim. Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari diri mereka sendiri(QS. Al-Ahzab : 6).
Ketika seseorang mempertaruhkan nyawanya untuk Rasul SAW, ia tidak menyerahkan untuk sesuatu yang bukan bagian dari dirinya (outward). Sejatinya, ia sedang menyerahkan pada yang akan menyempurnakan dirinya (inward).
Lanjutan dari surah At-Taubah ayat 20 itu berbunyi, “Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebaikan. Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
Artinya, manusia yang rela mengorbankan jiwa dan hartanya untuk Rasulullah SAW akan memperoleh sesuatu yang lebih berharga karena kemahakerdilannya dileburkan dengan kemahasempurnaan-Nya. Posisi yang mulia itu harus dicintai oleh yang memiliki posisi mutawassith atau nazil (lebih rendah). Karena itulah ayat mengatakan, laqad ja’akum rasulun min anfusikumSungguh telah datang Rasul dari diri kalian sendiri. Jadi, Rasul itu sesungguhnya bagian dari diri kalian.
Walhasil, kalau sang manusia mengorbankan dirinya untuk Rasul SAW, maka ia akan bertemu dengannya dan menjadi manusia sempurna. Ia juga bisa mencapai syuhud (menyaksikan) Rasulullah SAW dan risalahnya. Syuhud adalah kedudukan tertinggi bagi manusia.
Rasulullah adalah Spirit Manusia
Rasulullah SAW diturunkan di tengah-tengah era jahiliah sebagai akal munfashiluntuk menyelamatkan mereka dari kesesatan dan ketidaksadaran. Karena itu, ketika Allah SWT berfirman, “Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.” Ia berbicara  ketika Rasulullah SAW telah diciptakan dalam suatu tatanan masyarakat manusia, sehingga Allah memuji dirinya yang telah mencipta Rasulullah SAW.
Allah SWT menjelaskan tentang tahapan-tahapan penciptaan manusia yaitu mula-mula dari tanah, kemudian sperma, alaqahmudghah (segumpal daging), tulang dan daging dan kemudian ditiupkan ruh, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan  manusia dari saripati tanah, kemudian Kami menempatkan air mani itu dalam tempat yang kokoh (rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain. mahasuci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mukminun : 14).
Mahasuci Allah yang telah menyaring manusia dari makhluk nabati dan hewani. Allah yang sebaik-baik pencipta (ahsanul khaliqin) juga sebaik-baik yang menegakkan (ahsanu taqwim), maka manusia akan menjadi ahsanul makhluqin. Rasulullah SAW diutus di tengah-tengah masyarakat jahiliah agar kehidupan maknawi bisa bersemi, menyelamatkan manusia dari kehidupan kebodohan menuju kehidupan yang sempurna dan membahagiakan. Semua manusia adalah ahsanul makhluqin dibanding makhluk-makhluk lain tetapi tidak ada manusia yang menyamai Rasulullah SAW, sebab ia adalah mazhar jamaliyah wa jalaliyah (manifestasi keindahan dan keagungan) Allah SWT.
Karena itu ketika diucapkan nama Nabi Muhammad SAW, semua imam menampakkan sikap kerendahhatian dan kecintaan. Dalam sebuah riwayat, ada seorang lelaki bernama Abu Harun menemui Imam Shadiq. Imam bertanya, “Selang beberapa hari ini kami tidak melihat Anda. Apakah Anda bepergian?” Ia menjawab, “Aku dikarunia seorang putra sehingga aku sangat sibuk  menjamu tamu sekaligus  merawat ibuku.” Imam Shadiq berkata,“Semoga Allah SWT memberkati kelahirannya. Siapa nama anak itu?” Abu Harun menjawab, “Kuberi nama Muhammad.” Begitu mendengar nama Muhammad, wajah Imam tertunduk ke bawah tanah seperti hendak sujud. Kemudian tiga kali mengucapkan, “Muhammad, Muhammad, Muhammad! Engkau beri nama anakmu  Muhammad!” (ungkapan kebahagiaan). Kemudian Imam mengatakan,“Aku dan anakku, ayah dan ibuku, dan semua orang, siap untuk dijadikan tebusan bagi Muhammad! Janganlah sampai kalian memusuhinya atau memukulnya atau bersikap tidak sopan terhadapnya! Ketahuilah, tidak ada satu pun rumah di atas muka bumi yang disebut nama Muhammad dari dalam rumah itu kecuali rumah dan tanah itu pasti mengucapkan tasbih setiap harinya.”
Imam Shadiq telah menunjukkan penghormatan yang spontan dan luar biasa kepada Nabi Muhammad karena kesadarannya bahwa masyarakat akan mati tanpa kehadirannya. Seandainya Nabi Muhammad SAW tidak diutus, maka semua orang akan menjadi kafir dan tidak beragama, menyembah berhala. Masyarakat yang tidak menerima risalah Nabi SAW baik lantaran jahil qushuri(kelemahan dari diri mereka) atau karena jahil taqshiri (kelemahan dari luar diri mereka), maka mereka akan masih hidup di era jahiliah, sekalipun mereka sudah menjadi masyarakat yang berperadaban. Pasalnya, mereka tidak melacak jalan hakikat, mereka dapat tersesat dalam ajaran-ajaran ateis (zindik), dan sebagainya. Dalam Ziarah Jami’ah (ziarah untuk semua Imam), kita sering mengucapkan doa “Bikum akhrajnallahu minadzdzulli” (Karena berkat kalianlah Allah telah mengeluarkan kami dari kehinaan).
Aura dan Misi Risalah Rasulullah
Aura Risalah
Ada dua risalah. Yang pertama keberkatan primer dan kedua keberkatan sekunder. Tujuan utama risalah adalah mencerahkan masyarakat, memaksimalkan potensi kesucian dan potensi untuk melakukan syuhud(menyaksikan) al-Haq dan haqa’iq ghaybi wa ‘ayni (rahasia-rahasia gaib dan riil) di alam penciptaan.
Risalah Nabi SAW ditegakkan di atas asas, “Maka berbahagialah yang telah menyucikan dirinya,”(QS. Al-A’la : 14) untuk menyelamatkan peradaban dan mengajarkan makrifat eksistensi, “Dan sungguh beruntung orang yang menang pada hari itu,”(QS. Thaha : 64). Untuk mengganti ketakaburan, kebanggaan atas harta dan kebanggaan kesukuan.
Misi Risalah
  1. Menegakkan keadilan, “Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan).” (QS. Al-Hadid : 25)
  2. Mengikat persatuan di tengah-tengah umat Islam, “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara.”(QS. Al-Hujurat : 10)
  3. Melindungi territorial wilayah Islam, “Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir  yang ada di sekitar kamu dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”(QS. At-Taubah : 123)
Misi ini akan tercapai jika masyarakat Muhammad telah mengalami pencerahan. Al-Quran menyatakan, “Alif Lam Ra. (Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang.”(QS. Ibrahim : 1)
Allah selalu mengingatkan tentang sikap musuh-musuh Islam yang ingin mengubah kalian seperti mereka, Mereka menginginkan kalau kalian kafir seperti mereka sehingga kalian dan mereka menjadi setara (QS. An-Nisa : 89),Mereka akan terus memerangimu sehingga kalian meninggalkan agama kalian jika mereka mampu (QS. Al-Baqarah : 217).
Mereka yang memusuhi Islam berusaha memisahkan Islam dengan umatnya. Mereka ingin menguasai pikiran umat Islam dan pada akhirnya, mereka ingin merampok keyakinan suci, kehormatan dan aset-aset umat Islam.
Tambahan kata “jika mereka mampu” mengindikasikan bahwa itu tidak bisa dilakukan oleh mereka karena Allah SWT tidak akan membiarkan itu terjadi. Pasalnya, Dia selalu menempatkan orang-orang saleh di dunia ini. Jadi, dunia ini tidak pernah sepi dari kaum yang saleh.
Allah juga memberi lampu merah kepada sebagian mukmin, “Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati  dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan barangsiapa yang murtad dari agamanya maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang saling menyayangi sesama mereka. Mereka itu lembut terhadap orang-orang Mukmin dan keras terhadap orang-orang kafir.”(QS. Al-Maidah : 54).

Link  : http://buletinmitsal.wordpress.com/