Imam Ali as berkata, “Tidak ada yang dapat menggantikan akhirat, dan kehidupan
ini tidak sebanding untuk kita tukarkan” (Ghurar al-Hikam) Sering kali kita
menjual “diri” kita dengan murah. Apalagi sebagai orang Islam yang
lebih sering berkehidupan di tengah-tengah maraknya kebudayaan dunia Barat,
yang hampir semua hal masih patut untuk kita pertanyakan terlebih dahulu
apakah halal atau tidak (baik itu makanan, entertainment, suasana dan lingkungan
sekitarnya ataupun hal lainnya), tapi tetap saja kita sudah terbiasa untuk tetap
melakukannya dengan mudah.
Ajaran Islam hampir selalu menitikberatkan pada hal peperangan dengan hawa
nafsu kita. Bahkan kita diajarkan bahwa hal tersebut merupakan perperangan yang
paling berat bagi setiap manusia. Karena itu, sangatlah penting agar kita
senantiasa selalu mengambil keputsan-keputusan yang sifatnya dapat membantu diri
kita untuk melalui cobaan hidup ini. Lebih lagi terhadap hal-hal yang menyangkut
godaan-godaan duniawi sehingga pada akhirnya kita dapat menuju kepada penguasaan
terhadap diri kita sendiri.
Seringkali kita dengan mudahnya melakukan hal-hal yang baru-baru saja dicap
halal. Bahkan, begitu kita mendengarkan bahwa hal yang bersangkutan dinyatakan
halal (tidak dilarang), saat itu juga kita langsung melakukannya, tanpa terlebih
dahulu memikirkan: “Ya, memang hal itu tidak dilarang, tapi apakah hal tersebut
merupakan hal terbaik untuk saya lakukan saat ini? Dan apakah hal tersebut akan
membawa diri saya lebih dekat kepada Allah Swt ataukah sebaliknya?”
Seseorang pernah mendatangi Khalifah Keenam Muslimin, Imam Jafar Shadiq as dan
menanyakan, “Wahai Imam, aku ingin membangun sebuah rumah yang besar, apa
pendapat Anda terhadap hal ini?” Sang Imam menjawab, “Walaupun tidak ada
larangan terhadap hal itu, seorang mukmin seharusnya tidak punya waktu untuk
hal-hal seperti itu.” Cukup jelas apa yang dikatakan Sang Imam, bahwa untuk
membangun sebuah rumah besar memang halal dan tidak dilarang, tetapi bagi
seorang mukmin yang benar, seharusnya tidak memiliki waktu untuk disia-siakan
pada hal seperti itu.
Seharusnya kita bertanya terlebih dahulu kepada diri kita sendiri…, apakah kita
sedang menjual murah diri kita hanya sekedar untuk memperoleh/mendapatkan
hal-hal yang bersifat materi dan duniawi? Apakah kita sudah tidak lagi mampu
membawa diri kita untuk menuju kepada tingkatan tertinggi sebagaimana Allah Swt
sudah sebelumnya memberikan kemampuan tersebut pada diri kita? Bukankah kita
sudah yakin bahwa keberadaan Allah Swt sebagai Sang Pencipta dari segala-galanya
adalah lebih dekat dari pada urat-nadi kita? Kenapa kita dengan mudahnya tetap
saja menjual murah diri kita sendiri…?
Melakukan dosa dapat dikatakan sebagai sebuah proses. Seseorang tidaklah dapat
dinyatakan sebagai pelaku dosa yang sudah terbiasa (apalagi menyangkut dosa-dosa
besar) hanya dari satu kali saja situasi perlakuan. Jikalau kita sudah merasa
terbiasa untuk melakukan dosa tanpa adanya rasa penyesalan, itu disebabkan
karena kita selalu membiarkan saja masuknya kesempatan bagi diri kita untuk
semakin terbawa dan bahkan hanyut. Di saat itulah diri kita sudah mulai rasa
nyaman untuk tidak lagi harus berusaha mengejar yang “terbaik” untuk diri kita.
Perlahan-lahan kita mulai terbiasa puas dengan diri yang lebih rendah, dan
bahkan bersedia untuk berkompromi pula…
Sering kali kita dengar bahwa pilihan itu selalu hanya antara yang baik dan
buruk, ataupun antara benar dan yang salah. Padahal, jika kita membuka lebar
pemikiran kita untuk berpikir secara kritis dan positif, jauh lebih bermakna
jika kita membataskan pilihan kita itu hanya kepada yang “baik” dengan yang
“terbaik”. Karena yang akan terjadi, jika kita pilih yang “baik” dengan
mengorbankan yang “terbaik”, maka diri kita akan merasa tidak lagi terdorong
untuk lebih maju, merasa cukup puas dengan keadaan di saat itu, dan bahkan rela
melepas begitu saja semua kesempatan yang datang yang dapat mambawa diri kita
menuju kepada kesempurnaan. Apakah hal ini yang sungguh-sungguh kita inginkan
bagi diri kita? Memang untuk memilih pilihan yang “terbaik” mengharuskan kita
untuk bekerja dan berusaha jauh lebih berat dibandingkan pilihan yang “baik”
saja. Akan tetapi bukankah sebagai seorang mukmin sudah meyakini bahwa jika
seseorang memperbaiki dirinya lebih dari sekedar yang baik-baik saja dalam
proses mendekatkan diri kepada Allah Swt, manfaatnya dan pahalanya jauh melebihi
dari apa yang mampu kita bayangkan…?
Ada sebuah contoh yang mungkin hampir semua dari kita telah mengalaminya
baru-baru ini. Memang belum ada satu pun fatwa Islam yang jelas-jelas melarang
kita untuk merayakan pergantian tahun baru (Masehi). Akan tetapi, bila tanggal
yang dimaksud jatuh di tengah-tengah suasana dimana kita sedang berduka dalam
atas terbunhnya Imam Husain as, apa masih merupakan pilihan terbaik untuk
tetap kita merayakan tahun baru tersebut..? Apakah ketika kita sedang berpesta
merayakan tahun baru serta saling berucap selamat atas pergantian tahun akan
membawa sebuah efek yang positif bagi kita? Ataukah bahkan menjauhkan lagi kita
dari rasa bersedih dan berkabung di saat yang harusnya kita mengenang
pengorbanan- pengorbanan Imam Husain…?
Ayatullah Dastaghaib Shirazi menyebutkan dalam bukunya Greater Sins (Dosa-dosa
Yang Lebih Besar) bahwa menurut Allamah Majlisi, terdapat empat macam ketakwaan:
1. Wara at-Ta’biri – menghindar dari perbuatan-perbuatan terlarang.
2. Wara al-Shalihin – menghindar dari perbuatan-perbuatan yang belum jelas
terlarang atau tidak, agar terhindar dari suatu kemungkinan perbuatan haram.
3. Wara al-Muttaqin – menghindar dari perbuatan-perbuatan yang hanya sekedar
tidak dilarang saja agar benar-benar terhindar dari suatu kemungkinan perbuatan
haram.
4. Wara al-Shadiqin – menghindar dari segala perbuatan yang tidak ada kaitan
dengan perolehan faedah agama agar tidak menyia-nyiakan waktu yang sangat
berharga pada perbuatan-perbuatan yang tidak membawa manfaat, meskipun
kemungkinan tidak adanya resiko perbuatan haram pada hal yang bersangkutan.
Di sinilah menjadi jelas bagi kita bahwa walaupun tidak dinyatakan wajib,
melakukan ihtiyat (mawas diri) bukan saja kepada hal-hal yang belum jelas
terlarang atau tidak, tetapi juga terhadap hal-hal yang sekedar diperbolehkan
saja justru akan meningkatkan lagi kita menuju kepada ketakwaan (kesadaran akan
Allah SWT). Keuntungan dan manfaat dari ini secara fisik maupun spiritual bagi
kita tidak lagi dapat dihitung dan tidak juga ternilaikan. Maka selanjutnya
sebelum kita akan: menikmati lagi sebuah alunan lagu/musik (nasyid), membeli
sekantung permen (tanpa memikirkan komposisi asal gelatin hewani yang terkandung
didalamnya), menunda waktu shalat sampai dengan selesai terlebih dahulu semua
pekerjaan kita, langsung bergegas lari menuju ke restoran halal yang baru saja
buka hanya sekedar karena berita yang kami dengar bahwa restoran itu adalah
halal, akan sangat lebih baik jika kita mempertimbangkan hal-hal tersebut lebih
jauh sebelum melakukannya, mengejar manfaat dan keuntngan dari menghindar saja
hal-hal terlarang, berhati-hati dan mawas diri, dan meningkatkan perbuatan-
perbuatan diri kita lebih dari sekedar yang baik-baik saja dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Allah Swt telah menciptakan manusia sebagai yang paling sempurna dari semua
makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Apa sudah pantaskah kita disebut demikian? Pada
akhirnya, keputusan-keputusan yang kita ambil dalam rangka meperbaiki diri
merupakan pilihan-pilihan milik kita sendiri, bukan milik orang lain. Apakah
sudah merupakan yang “terbaik” pilihan-pilihan yang kita ambil…? Sudahkah kita
mulai memilih hanya yang “terbaik” saja buat diri kita? Ataukah kita malah
merasa sudah cukup puas dengan tingkatan pada diri kita yang lebih rendah saja…?
Link : http://fajartimur.wordpress.com/
Kamis, 21 April 2011
Minggu, 17 April 2011
Ketaatan Sebagai Kemuliaan
Kiranya pantas manusia berpikir mengapa Tuhan memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk mentaati-Nya dan melarangnya untuk tidak bermaksiat. Mengapa perintah dan larangan terdapat pada firman Tuhan? Mengapa ketaatan kepada-Nya menyebabkan kebahagiaan dan bermaksiat kepada-Nya mendatangkan kemarahan-Nya dan penderitaan manusia. Persoalan ini harus dipahami dengan bersandar pada pengenalan Tuhan dan sifat-sifatnya, dan juga pengenal terhadap tujuan penciptaan dan pengadaan syariat agama. Jawaban global dari pertanyaan ini adalah bahwa perintah dan larangan Ilahi, baik yang wajib, mustahab, haram dan makruh merupakan lintasan kesempurnaan manusia. Faktor-faktor tersebut merupakan faktor penyebab kesempurnaan manusia di pelataran dunia ini. Manusia dengan melewati lintasan tersebut dapat mencapai kesempurnaan dan mentransendental. Dengan demikian manfaat menuruti dan menjauhi, perintah-larangan Tuhan adalah untuk kesempurnaan manusia. Karena Tuhan tidak-membutuhkan dan mahakaya secara mutlak. Dia tidak mengeruk keuntungan dari perbuatan baik kita, dan tidak menderita kerugian dari keburukan kita. Tuhan berdasarkan rahmat dan faidh-Nya yang tak-terbatas, menyediakan seluruh faktor dan jalan untuk mentransendental dan menyempurnanya manusia. Bahkan ketika manusia dengan perbuatan tertentu yang menyebabkan kemurkaan-Nya, Tuhan menyediakan jalan untuk kembali kepada-Nya.
Pada hari keenam ini doa yang kita bacakan adalah berkenaan dengan kehinaan bermaksiat kepada Allah Swt, permohonan tidak dicemeti dengan cambuk amarah-Nya dan doa kiranya dijauhkan dari segala yang menyebabkan kemurkaan-Nya.
اَللَّهُمَّ لاَ تَخْذُلْنِيْ فِيْهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ وَ لاَ تَضْرِبْنِيْ بِسِيَاطِ نَقِمَتِكَ
وَ زَحْزِحْنِيْ فِيْهِ مِنْ مُوْجِبَاتِ سَخَطِكَ بِمَنِّكَ وَ أَيَادِيْكَ يَا مُنْتَهَى رَغْبَةِ الرَّاغِبِيْنَ
Ya Allah, jangan Kau hinakan aku di bulan ini karena keberanianku bermaksiat kepada-Mu, jangan Kau cambuk aku dengan cambuk amarah-Mu dan jauhkanlah aku dari (segala perbuatan) yang menyebabkan murka-Mu. Dengan anugerah dan kekuasaan-Mu wahai Puncak Harapan para pengharap.
اَللَّهُمَّ لاَ تَخْذُلْنِيْ فِيْهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ
“Ya Allah, jangan Kau hinakan aku di bulan ini karena keberanianku bermaksiat kepada-Mu.”
Dalam frase doa ini kita meminta kepada Allah Swt supaya tidak terhinakan karena bermaksiat kepada-Nya. Bermaksiat kepada Allah Swt adalah menjatuhkan diri dalam kubangan kehinaan.
Sebagaimana taat kepada Tuhan mendatangkan kemuliaan dan kehormatan, maka bermaksiat kepada-Nya menuai kehinaan.
Barangkali seburuk-buruk kehinaan adalah terjerembab dalam kubangan maksiat. Berbuat dosa akan mengerdilkan jiwa manusia. Nilai keberadaannya dipertaruhkan. Fitrahnya yang suci dan bercahaya ternodai dan terkaburkan.
Alangkah malangnya orang yang mengetahui bahwa dengan melakukan perbuatan hina dan memalukan akan mendapat celaan dan cemoohan di hadapan manusia, namun tidak dapat mengetahui bahwa perbuatan hina dan memalukan bakalan mendapatkan celaan dan kutukan di hadapan Tuhan.
Abul Farj Isfahani, dalam kitab Maqati ath-Thâlibin, menukil dari Qasim bin Asbagh Nabatih bahwa: Aku melihat seseorang dari suku Bani Daram yang memiliki wajah yang menawan dan berkulit putih. Namun setelah peristiwa Karbala aku melihat wajahnya berubah menjadi hitam legam. Ketika kutanya: “Engkau adalah seorang yang memiliki wajah tampan dan berkulit putih, mengapa kini engkau hitam legam? Ia berkata: “Aku membunuh salah seorang pemuda yang menyertai Imam Husain As di Karbala. Seorang pemuda yang di keningnya terdapat tanda-tanda sujud. Semenjak hari itu, pemuda yang aku bunuh itu setiap malam datang dalam mimpiku. Ia menyeretku dan melemparkan aku ke jahannam. Karena sedemikian mengerikannya sehingga aku menjerit yang seluruh orang di kampung mendengar jeritanku.
Banyak kisah di dekat kita yang dapat dijadikan sebagai contoh kasus, betapa kesalahan membuat depresi dan penyesalan berlarut-larut dalam kehidupan kita.
Iya, salah satu pengaruh perbuatan dosa adalah azab-derita nurani dan kehinaan dunia-akhirat. Bisikan nurani orang yang berbuat dosa senantiasa menderanya dengan cemeti rasa berdosa.
Imam Shadiq As bersabda: “Takutlah kalian dari akibat perbuatan dosa.” (Bihârul Anwâr, jil 75, hal. 437)
Imam Baqir As bersabda: “Tiada nestapa dan duka yang menimpa seorang hamba kecuali lantaran perbuatan dosa yang ia kerjakan. Namun lautan rahmat Tuhan amat luas.” (Qishar al-Jamal, jil. 1, hal. 232)
Disebutkan bahwa terdapat dua sebab membuat orang melakukan perbuatan dosa;
1. Pertama, karena kebodohan, jiwa lemah dan pikiran pendek yang membuat orang ternoda dengan perbuatan dosa. Oleh karena itu ia disebut sebagai pelaku maksiat.
2. Kedua, karena sengaja membangkang Tuhan semesta alam. Pedosa yang satu ini adalah orang yang tersesat dan menyesatkan. Karena pembangkangannya ini ia termasuk sebagai orang-orang yang tersesat. Orang yang sesat menentang Tuhan. Alih-alih mengamalkan hukum Tuhan, pedosa ini mengamalkan hukum yang sesuai dengan selera dan hawa nafsunya.
Berbuat dosa atau membangkang perintah Tuhan, mengikuti hawa nafsu, mau-tak-mau akan mengerjakan apa saja sehingga dapat menjalankan perintah nafsunya. Meski terjauhkan dari Tuhan, dan berbuat aniaya kepada manusia.
Titik seberang maksiat kepada Tuhan adalah ketaatan. Ketaatan kepada Tuhan adalah sebuah kehormatan dan kemuliaan. Berbuat dosa atau maksiat kepada-Nya adalah kehinaan.
Perbuatan dosa menjungkalkan kemanusiaan manusia, mendorong nilai keberadaannya ke arah jurang ketiadaan. Manusia dengan berbuat dosa fitrah suci dan nuraninya berontak. Membuatnya tertunduk malu di hadapan Sang Pencipta dan manusia.
Bermaksiat kepada Tuhan menghasilkan kehinaan sebagaimana ketaatan kepadanya mendatangkan kemuliaan.
Imam ‘Ali As bersabda: “Ilahi cukup kemuliaan bagiku bahwa Aku (ini) adalah hamba-Mu. Dan cukup bagiku kehormatan bahwa Engkau (itu) adalah Tuhanku.”
Kita berdoa kepada Allah Swt supaya tidak dihinakan dengan kelancangan bermaksiat kepada-Nya.
وَ لاَ تَضْرِبْنِيْ بِسِيَاطِ نَقِمَتِكَ
“Jangan Kau cambuk aku dengan cambuk kemurkaan-Mu“
Naqima secara leksikal bermakna mengingkari sesuatu, akibat dari sesuatu dan juga berarti sesuatu yang sangat tidak disukai (Qamus Qur’an, kata naqima). Salah satu sifat Tuhan adalah muntaqim (penuntut balas). Menuntut balas dari para tiran, durjana, kaum aniaya dan para pedosa yang selalu melupakan Tuhan. Dalam frase doa ini, pukulan-pukulan diumpakan dengan cambuk dan cemeti sebagai hukuman atas dosa yang dimaksudkan untuk mendidik para pedosa dan pelaku maksiat. Tentu Allah Swt tidak akan membiarkan para pedosa begitu saja. Mereka harus mencicipi akibat (hukuman) dari perbuatannya. Baik di dunia ini atau pun di akhirat kelak. Dalam al-Qur’an kita bisa mengambil pelajaran dari kisah kaum Nuh, ‘Ad dan Tsamud karena kekufuran dan tidak bersyukurnya mereka kepada Tuhan menjadikan kemurkaan Tuhan tumpah ruah. Namun di samping sifat muntaqimnya Allah Swt adalah Mahakasih dan Mahasayang. Bahkan kasih-Nya melebihi murka-Nya. “Tuhanku, jangan Kau cambuk aku dengan cambuk kemurkaan-Mu.”
Diriwayatkan dari Imam Shadiq bahwa Nabi Nuh As setelah tiga ratus tahun siang dan malam menyeru kaumnya kepada Tuhan, namun mereka tidak menyambut seruan ini. Nabi Nuh As memutuskan untuk mengutuk mereka. Para malaikat datang ke hadiratnya dan memohonnya untuk tidak mengutuk mereka. Kemudian beliau memberikan kesempatan kepada kaumnya selama tiga ratus tahun supaya mereka bertaubat dan menyembah Allah Swt. Setelah enam ratus tahun berlalu lagi kaumnya belum lagi beriman kepada Allah Swt dan kepadanya. Beliau kembali memutuskan untuk mengutuk mereka. Kembali malaikat datang menghadap Nabi Nuh As dan memohon kepadanya untuk tidak mengutuk mereka. Nabi Nuh As memberikan kesempatan tiga ratus tahun lagi kepada mereka untuk menyatakan keyakinan mereka. Akhirnya sembilan ratus tahun berlalu, hanya sedikit di antara mereka yang beriman. Lalu Nabi Nuh mengutuk kaumnya, kemudian turunlah ayat 11 dari surah Hud. “Dan diwahyukan kepada Nuh bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Karena itu, janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”
Kemudian Nabi Nuh As mengutuk mereka dan bersabda: “Nuh berkata, “Ya Tuhan-ku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Karena jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (Qs. Nuh [71]:26-27)[1]
Demikianlah potret rahmat Tuhan yang tak-terbatas kepada para hamba-Nya. Rahmat-Nya mendahului murka-Nya.
وَ زَحْزِحْنِيْ فِيْهِ مِنْ مُوْجِبَاتِ سَخَطِكَ
Dan jauhkanlah aku dari (segala perbuatan) yang menyebabkan murka-Mu.
Dengan sedikit merenungi frase-frase doa hari keenam ini hubungan yang terjalin di antara frase tersebut akan menjadi jelas: Pertama ihwal kehinaan dosa, lalu cambuk kemarahan Tuhan dan pada akhirnya adalah ghadab (murka) Tuhan. Sejatinya dengan melakukan pembangkangan dan bermaksiat maka persoalan azab ini mengemuka dan hal ini merupakan ancaman serius bagi mereka. Artinya ketika manusia tidak terjerembab dengan pembangkangan dan perbuatan maksiat maka persoalan ini akan tertolak dengan sendirinya. Bukankah dengan melanggar perintah Tuhan menyebabkan kemurkaan Tuhan? Bukankah berbuat maksiat merupakan faktor pengundang murka Tuhan? Jadi dengan memperhatikan faktor-faktor ini akan menjauhkan diri kita dari murka Tuhan. Atas alasan ini seorang supaya terbebas dari kehinaan dan ancaman azab ini maka tiada jalan lain kecuali berlindung kepada Allah Swt. Dan memohon kepada-Nya untuk dijauhkan dari segala yang menyebabkan kemurkaan-Nya.
بِمَنِّكَ وَ أَيَادِيْكَ يَا مُنْتَهَى رَغْبَةِ الرَّاغِبِيْنَ
Dengan anugerah dan kekuasaan-Mu wahai Puncak Harapan para pengharap.
Keberadaan merupakan anugerah Tuhan. Dan seluruh nikmat Tuhan memenuhi segala keberadaan, oleh karena itu mengingatkan kepada anugerah dan nikmat Tuhan. Kekuasaan-Nya juga meliputi keberadaan. Tiada mungkin untuk lari dari kekuasaan Tuhan ini. “Wala yumkin an firar min hukumatik.” Demikian rintihan Imam ‘Ali dalam doa Kumail. Manusia seluruhnya bergerak mencari Tuhan, meski mereka mengejar harta, tahta dan wanita. Meski mereka mengejar kehidupan dan penghidupan mereka. Meski mencari yang lainnya, sejatinya mencari Tuhan. Mereka mencari kesempurnaan. Dan Engkau wahai Tuhanku adalah kesempurnaan mutlak. Engkaulah tambatan harapan segala harapan. Di penghujung doa hari ini, kita bermohon kepada Allah Swt dengan anugerah dan kekuasan-Nya untuk memudahkan hari yang kita lalui tanpa maksiat kepada-Nya, meski boleh-jadi mustahil bagi kita tanpa dosa namun berusahalah untuk menghindar. Berusahalah di hari ini mejadikan ketaatan sebagai kemuliaan, maksiat sebagai kehinaan. Mari kita tambatkan harapan pada-Nya untuk memudahkan kita melalui hari-hari penuh dengan ketaatan kepada-Nya.
Link : www.telagahikmah.org/ina
Pada hari keenam ini doa yang kita bacakan adalah berkenaan dengan kehinaan bermaksiat kepada Allah Swt, permohonan tidak dicemeti dengan cambuk amarah-Nya dan doa kiranya dijauhkan dari segala yang menyebabkan kemurkaan-Nya.
اَللَّهُمَّ لاَ تَخْذُلْنِيْ فِيْهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ وَ لاَ تَضْرِبْنِيْ بِسِيَاطِ نَقِمَتِكَ
وَ زَحْزِحْنِيْ فِيْهِ مِنْ مُوْجِبَاتِ سَخَطِكَ بِمَنِّكَ وَ أَيَادِيْكَ يَا مُنْتَهَى رَغْبَةِ الرَّاغِبِيْنَ
Ya Allah, jangan Kau hinakan aku di bulan ini karena keberanianku bermaksiat kepada-Mu, jangan Kau cambuk aku dengan cambuk amarah-Mu dan jauhkanlah aku dari (segala perbuatan) yang menyebabkan murka-Mu. Dengan anugerah dan kekuasaan-Mu wahai Puncak Harapan para pengharap.
اَللَّهُمَّ لاَ تَخْذُلْنِيْ فِيْهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ
“Ya Allah, jangan Kau hinakan aku di bulan ini karena keberanianku bermaksiat kepada-Mu.”
Dalam frase doa ini kita meminta kepada Allah Swt supaya tidak terhinakan karena bermaksiat kepada-Nya. Bermaksiat kepada Allah Swt adalah menjatuhkan diri dalam kubangan kehinaan.
Sebagaimana taat kepada Tuhan mendatangkan kemuliaan dan kehormatan, maka bermaksiat kepada-Nya menuai kehinaan.
Barangkali seburuk-buruk kehinaan adalah terjerembab dalam kubangan maksiat. Berbuat dosa akan mengerdilkan jiwa manusia. Nilai keberadaannya dipertaruhkan. Fitrahnya yang suci dan bercahaya ternodai dan terkaburkan.
Alangkah malangnya orang yang mengetahui bahwa dengan melakukan perbuatan hina dan memalukan akan mendapat celaan dan cemoohan di hadapan manusia, namun tidak dapat mengetahui bahwa perbuatan hina dan memalukan bakalan mendapatkan celaan dan kutukan di hadapan Tuhan.
Abul Farj Isfahani, dalam kitab Maqati ath-Thâlibin, menukil dari Qasim bin Asbagh Nabatih bahwa: Aku melihat seseorang dari suku Bani Daram yang memiliki wajah yang menawan dan berkulit putih. Namun setelah peristiwa Karbala aku melihat wajahnya berubah menjadi hitam legam. Ketika kutanya: “Engkau adalah seorang yang memiliki wajah tampan dan berkulit putih, mengapa kini engkau hitam legam? Ia berkata: “Aku membunuh salah seorang pemuda yang menyertai Imam Husain As di Karbala. Seorang pemuda yang di keningnya terdapat tanda-tanda sujud. Semenjak hari itu, pemuda yang aku bunuh itu setiap malam datang dalam mimpiku. Ia menyeretku dan melemparkan aku ke jahannam. Karena sedemikian mengerikannya sehingga aku menjerit yang seluruh orang di kampung mendengar jeritanku.
Banyak kisah di dekat kita yang dapat dijadikan sebagai contoh kasus, betapa kesalahan membuat depresi dan penyesalan berlarut-larut dalam kehidupan kita.
Iya, salah satu pengaruh perbuatan dosa adalah azab-derita nurani dan kehinaan dunia-akhirat. Bisikan nurani orang yang berbuat dosa senantiasa menderanya dengan cemeti rasa berdosa.
Imam Shadiq As bersabda: “Takutlah kalian dari akibat perbuatan dosa.” (Bihârul Anwâr, jil 75, hal. 437)
Imam Baqir As bersabda: “Tiada nestapa dan duka yang menimpa seorang hamba kecuali lantaran perbuatan dosa yang ia kerjakan. Namun lautan rahmat Tuhan amat luas.” (Qishar al-Jamal, jil. 1, hal. 232)
Disebutkan bahwa terdapat dua sebab membuat orang melakukan perbuatan dosa;
1. Pertama, karena kebodohan, jiwa lemah dan pikiran pendek yang membuat orang ternoda dengan perbuatan dosa. Oleh karena itu ia disebut sebagai pelaku maksiat.
2. Kedua, karena sengaja membangkang Tuhan semesta alam. Pedosa yang satu ini adalah orang yang tersesat dan menyesatkan. Karena pembangkangannya ini ia termasuk sebagai orang-orang yang tersesat. Orang yang sesat menentang Tuhan. Alih-alih mengamalkan hukum Tuhan, pedosa ini mengamalkan hukum yang sesuai dengan selera dan hawa nafsunya.
Berbuat dosa atau membangkang perintah Tuhan, mengikuti hawa nafsu, mau-tak-mau akan mengerjakan apa saja sehingga dapat menjalankan perintah nafsunya. Meski terjauhkan dari Tuhan, dan berbuat aniaya kepada manusia.
Titik seberang maksiat kepada Tuhan adalah ketaatan. Ketaatan kepada Tuhan adalah sebuah kehormatan dan kemuliaan. Berbuat dosa atau maksiat kepada-Nya adalah kehinaan.
Perbuatan dosa menjungkalkan kemanusiaan manusia, mendorong nilai keberadaannya ke arah jurang ketiadaan. Manusia dengan berbuat dosa fitrah suci dan nuraninya berontak. Membuatnya tertunduk malu di hadapan Sang Pencipta dan manusia.
Bermaksiat kepada Tuhan menghasilkan kehinaan sebagaimana ketaatan kepadanya mendatangkan kemuliaan.
Imam ‘Ali As bersabda: “Ilahi cukup kemuliaan bagiku bahwa Aku (ini) adalah hamba-Mu. Dan cukup bagiku kehormatan bahwa Engkau (itu) adalah Tuhanku.”
Kita berdoa kepada Allah Swt supaya tidak dihinakan dengan kelancangan bermaksiat kepada-Nya.
وَ لاَ تَضْرِبْنِيْ بِسِيَاطِ نَقِمَتِكَ
“Jangan Kau cambuk aku dengan cambuk kemurkaan-Mu“
Naqima secara leksikal bermakna mengingkari sesuatu, akibat dari sesuatu dan juga berarti sesuatu yang sangat tidak disukai (Qamus Qur’an, kata naqima). Salah satu sifat Tuhan adalah muntaqim (penuntut balas). Menuntut balas dari para tiran, durjana, kaum aniaya dan para pedosa yang selalu melupakan Tuhan. Dalam frase doa ini, pukulan-pukulan diumpakan dengan cambuk dan cemeti sebagai hukuman atas dosa yang dimaksudkan untuk mendidik para pedosa dan pelaku maksiat. Tentu Allah Swt tidak akan membiarkan para pedosa begitu saja. Mereka harus mencicipi akibat (hukuman) dari perbuatannya. Baik di dunia ini atau pun di akhirat kelak. Dalam al-Qur’an kita bisa mengambil pelajaran dari kisah kaum Nuh, ‘Ad dan Tsamud karena kekufuran dan tidak bersyukurnya mereka kepada Tuhan menjadikan kemurkaan Tuhan tumpah ruah. Namun di samping sifat muntaqimnya Allah Swt adalah Mahakasih dan Mahasayang. Bahkan kasih-Nya melebihi murka-Nya. “Tuhanku, jangan Kau cambuk aku dengan cambuk kemurkaan-Mu.”
Diriwayatkan dari Imam Shadiq bahwa Nabi Nuh As setelah tiga ratus tahun siang dan malam menyeru kaumnya kepada Tuhan, namun mereka tidak menyambut seruan ini. Nabi Nuh As memutuskan untuk mengutuk mereka. Para malaikat datang ke hadiratnya dan memohonnya untuk tidak mengutuk mereka. Kemudian beliau memberikan kesempatan kepada kaumnya selama tiga ratus tahun supaya mereka bertaubat dan menyembah Allah Swt. Setelah enam ratus tahun berlalu lagi kaumnya belum lagi beriman kepada Allah Swt dan kepadanya. Beliau kembali memutuskan untuk mengutuk mereka. Kembali malaikat datang menghadap Nabi Nuh As dan memohon kepadanya untuk tidak mengutuk mereka. Nabi Nuh As memberikan kesempatan tiga ratus tahun lagi kepada mereka untuk menyatakan keyakinan mereka. Akhirnya sembilan ratus tahun berlalu, hanya sedikit di antara mereka yang beriman. Lalu Nabi Nuh mengutuk kaumnya, kemudian turunlah ayat 11 dari surah Hud. “Dan diwahyukan kepada Nuh bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Karena itu, janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”
Kemudian Nabi Nuh As mengutuk mereka dan bersabda: “Nuh berkata, “Ya Tuhan-ku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Karena jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (Qs. Nuh [71]:26-27)[1]
Demikianlah potret rahmat Tuhan yang tak-terbatas kepada para hamba-Nya. Rahmat-Nya mendahului murka-Nya.
وَ زَحْزِحْنِيْ فِيْهِ مِنْ مُوْجِبَاتِ سَخَطِكَ
Dan jauhkanlah aku dari (segala perbuatan) yang menyebabkan murka-Mu.
Dengan sedikit merenungi frase-frase doa hari keenam ini hubungan yang terjalin di antara frase tersebut akan menjadi jelas: Pertama ihwal kehinaan dosa, lalu cambuk kemarahan Tuhan dan pada akhirnya adalah ghadab (murka) Tuhan. Sejatinya dengan melakukan pembangkangan dan bermaksiat maka persoalan azab ini mengemuka dan hal ini merupakan ancaman serius bagi mereka. Artinya ketika manusia tidak terjerembab dengan pembangkangan dan perbuatan maksiat maka persoalan ini akan tertolak dengan sendirinya. Bukankah dengan melanggar perintah Tuhan menyebabkan kemurkaan Tuhan? Bukankah berbuat maksiat merupakan faktor pengundang murka Tuhan? Jadi dengan memperhatikan faktor-faktor ini akan menjauhkan diri kita dari murka Tuhan. Atas alasan ini seorang supaya terbebas dari kehinaan dan ancaman azab ini maka tiada jalan lain kecuali berlindung kepada Allah Swt. Dan memohon kepada-Nya untuk dijauhkan dari segala yang menyebabkan kemurkaan-Nya.
بِمَنِّكَ وَ أَيَادِيْكَ يَا مُنْتَهَى رَغْبَةِ الرَّاغِبِيْنَ
Dengan anugerah dan kekuasaan-Mu wahai Puncak Harapan para pengharap.
Keberadaan merupakan anugerah Tuhan. Dan seluruh nikmat Tuhan memenuhi segala keberadaan, oleh karena itu mengingatkan kepada anugerah dan nikmat Tuhan. Kekuasaan-Nya juga meliputi keberadaan. Tiada mungkin untuk lari dari kekuasaan Tuhan ini. “Wala yumkin an firar min hukumatik.” Demikian rintihan Imam ‘Ali dalam doa Kumail. Manusia seluruhnya bergerak mencari Tuhan, meski mereka mengejar harta, tahta dan wanita. Meski mereka mengejar kehidupan dan penghidupan mereka. Meski mencari yang lainnya, sejatinya mencari Tuhan. Mereka mencari kesempurnaan. Dan Engkau wahai Tuhanku adalah kesempurnaan mutlak. Engkaulah tambatan harapan segala harapan. Di penghujung doa hari ini, kita bermohon kepada Allah Swt dengan anugerah dan kekuasan-Nya untuk memudahkan hari yang kita lalui tanpa maksiat kepada-Nya, meski boleh-jadi mustahil bagi kita tanpa dosa namun berusahalah untuk menghindar. Berusahalah di hari ini mejadikan ketaatan sebagai kemuliaan, maksiat sebagai kehinaan. Mari kita tambatkan harapan pada-Nya untuk memudahkan kita melalui hari-hari penuh dengan ketaatan kepada-Nya.
Link : www.telagahikmah.org/ina
Langganan:
Postingan (Atom)