Rabu, 01 Desember 2010

Renungan Hamba

Slalu qu sesali dosa slalu qu ulang kembali dan kau masih memberi kebahagiaan qu bukan hamba pilihan
Allah berfirman :
Wahai Manusia aku heran pada orang yg yakin akan kematian tapi ia hidup bersukaria, aku heran pada orang yg yakin akan pertanggung jawaban sgala amal perbuatan di akhirat tapi ia asyik mengumpulkan dan menumpuk harta benda, aku heran pada orang yg yakin akan kubur tapi ia tertawa terbahak-bahak, aku heran pada orang yakin akan adanya alam akhirat tapi ia menjalani kehidupan dengan bersantai-santai, aku heran pada orang yg bersuci dengan air sementara hatinya masih tetap kotor, aku heran pada oran yg sibuk mencari cacat dan aib orang lain sementara ia tidak sadar samasekali pada cacat yg ada pada dirinya sendiri, aku heran pada orang yg yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi perilakunya tapi ia berbuat durjana, aku heran pada orang yg sadar akan kematiannya dan akan tinggal dalam kubur seorang diri lalu dimintai pertanggung jawaban seluruh amal perbuatannya tapi ia berharap belas kasih dari orang lain sungguh tiada Tuhan kecuali aku dan Muhammad adalah utusanKu.
Barangsiapa tidak mau menerima suratan nasib yg telah aku putuskan, tidak bersabar atas segala atas segala cobaan yg aku berikan, tidak mau berterima kasih atas segala nikmat yg aku curahkan dan tidak mau menerima apa adanya atas segala yg apa aku berikan, maka sembahlah Tuhan selain aku. Barangsiapa yg susah karena urusan dunia samasaja ia marah kepadaKu, barangsiapa mengadukan musibah yg menimpa dirinya pada orang ia sungguh2 berkelu-kesah kepadaKu, barangsiapa yg tidak bertambah tingkat penghayatan keagamaannya sungguh ia dalam keadaan selalu berkurang, barangsiapa yg terus-menerus dalam keadaan berkurang kematian jauh lebih baik baginya
Wahai manusia terimalah anugerah yg kuberikan dengan lapang dada maka engkau tidak akan berharap pada pemberian orang lain, tinggalkanlah rasa dengki maka engkau akan terhindar dari kegelisahan hidup, hindari perbuatan haram maka engkau aman dalam kerancuan dalam beragama, barangsiapa mampu dari tidak membicarakan kejelekan orang lain maka kecintaanKu akan kuanugerahkan kepadanya, barangsiapa mengisolasikan diri dari kerumunan orang maka ia akan terhindar dari pengaruh jeleknya, barangsiapa mampu menjaga diri dari berbicara yang tidak ada gunanya itu menandakan kematangan akalnya, barangsiapa menerima dengan lapangdada atas pemberian Allah yg sedikit maka ia penuh percaya pada Allah.
Wahai manusia barangsiapa beduka karena persoalan dunia maka ia akan kian jauh dari Allah kian nestapa di dunia dan semakin menderita di akhirat Allah akan menjadikan hati orang tersebut dirundung duka selamanya, kebingungan yg tak berakhir, kepapahan yg berlarut-larut dan angan2 yg selalu mengusik ketenangan hidupnya.
Wahai manusia hari demi hari usiamu kian berkurang sementara engkau tidak pernah menyadarinya, setiap hari aku mendatngkan rezeki kepadamu sementara kau tidak pernah memujiKu dengan pemberian yg sedikit engkau tidak mau lapangdada dengan pemberian yg banyak engkau juga tidak pernah merasa kenyang.
Wahai manusia setiap hari aku mendatngkan rezeki untukmu sementara setiap malam malaikat datang kepadaKu dengan membawa catatan amal perbuatan jelekmu. Aku kabulkan jika kau memohon kepadaKu kebaikanKu tak putus2 mengalir untukmu namun sebaliknya catatan kejelekanmu sampai kepadaKu tiada henti, Akulah pelidung terbaik untukmu sementara engkau hamba terjelek bagiku, kututupi kejelekan demi kejelekan apa yg kau perbuat, aku sungguh2 malu kepadamu sementara engkau tidak pernah sedikitpun malu kepadaKu, engkau melupakan diriKu dan mengingat yg lain, kepada manusia engkau merasa takut sementara kepadaKu engkau merasa aman2 saja[]

Rabu, 24 November 2010

Kematian tidak Bermakna Ketiadaan

Bagaimana kita kembali kepada ketiadaan?
Apakah yang Anda maksudkan dengan “kembali kepada ketiadaan”? Apakah maksudnya adalah kembali pada keadaan sebelum dilahirkan? Seperti mereka yang mengatakan andai saja Aku tidak dilahirkan?

Tentu saja jelas bahwa tidak ada jalan untuk kembali kepada kondisi sebelumnya, karena waktu senantiasa berlalu dan dia tidak akan berhenti dari gerakannya dengan keinginan, kemauan dan kehendak kita, demikian juga waktu tidak akan pernah kembali ke belakang. Jadi “kembali kepada ketiadaan” dengan makna seperti ini tidak dapat diterima.

Namun jika yang dimaksud dengan ketiadaan adalah “kematian”, maka harus diketahui bahwa kematian bukanlah ketiadaan, kepunahan, dan kesirnaan, melainkan sebuah perubahan dan revolusi dari satu kondisi ke kondisi yang lain, dan perpindahan dari satu alam (alam dunia) ke alam yang lain (alam akhirat).

Aku mati dari mineral dan menjadi tumbuhan
Aku mati dari tumbuhan kemudian menjadi hewan
Aku mati dari hewan kemudian menjadi manusia
Lalu mengapa aku takut apabila aku mati beringsut
Aku berlalu sebagai manusia
Membawa empat sayap dan bulu bak malaikat
Setelah itu, berkoar lebih menjulang dari malaikat
Mengapa engkau tidak dapat membayangkan
Aku akan menjadi seperti itu
Lalu aku tiada setelah tiada[1] bak dentang organ
Aku berkata Inna liLlahi rajiun[2]


Oleh karena itu, dengan menerima teori ini, kematian sejatinya merupakan sebuah kesempurnaan dan gerak menanjak naik. Sebagaimana yang disinggung Maulawi dalam syairnya bahwa menjadi manusia membutuhkan terlewatinya tahapan-tahapan seperti tahapan jasmani (jism), nabati (nabati), dan hewan (hewan). Pada dasarnya masing-masing tahapan ini diperoleh setelah terjadinya kematian pada tahapan sebelumnya.[3] Jadi, kesimpulannya, saat ini ketika aku mati, sebenarnya aku tidak mengalami kehancuran dan kefanaan, melainkan bergerak naik ke tahapan yang lebih tinggi, dan tahapan tersebut adalah alam para malaikat.

Para filosof pun meyakini bahwa kehidupan setelah mati bukanlah yang dimaksud sebagai kembali kepada ketiadaan, dan mereka yakin bahwa “kembali kepada ketiadaan” merupakan sebuah kemustahilan dan absurd.[4] Dan jika seseorang menyangka bahwa kiamat dan ma’âd merupakan berulangnya suatu ketiadaan atau sesuatu yang pernah tiada kemudian mengada dan kembali lagi menjadi tiada, sesungguhnya ia telah berada dalam kesalahan fatal. Karena, pertama: sesuatu tidak akan sirna dan musnah dengan kematian, melainkan kematian merupakan sebuah bentuk kesempurnaan yang akan melanjutkan kehidupannya dengan terpisahnya ruh dari badan, ruh yang membentuk hakikat realitas manusia bahkan akan memiliki kemampuan dan kekuatan jauh lebih banyak setelah terpisah dari badan dibandingkan ketika badan masih berada dalam kepengaturannya. Yang kedua: ma’âd dan kiamat bukanlah bermakna sesuatu kembali berwujud setelah ketiadaan, melainkan bermakna “kembali”, yakni kembali ke sisi Tuhan, bukannya kembali dari ketiadaan kepada keberadaan.

Dengan demikian, secara ringkas harus dikatakan bahwa kembali kepada ketiadaan tidak bermakna sama sekali, demikian juga tidak ada jalan untuk yang demikian itu.[5][]


[1]. Jelas bahwa yang dimaksud tiada dalam bait syair ini adalah tiada yang telah disinggung Rumi pada bait-bait sebelumnya yang bermakna posisi meninggi (posisi rendah menanjak menuju posisi yang lebih tinggi).

[2]. Matsnawi Ma'nawi, Daftar-e Sewwum, hal. 1512.

[3]. Berdasarkan pandangan Mulla Sadra, kematian ini sejenis “penyifatan pasca penyifatan”, bukan “penyifatan pasca kehancuran”.

[4]. Untuk mengetahui argumen filsafat lihatlah, Nihayatul Hikmah, Allamah Thabathabai, hal. 22-25.

[5]. Apakah sesuatu yang telah ada akan menjadi sirna? Apabila sesuatu yang telah ada itu tidak akan sirna maka apakah kaidah ini berkonsekuensi pada keazalian dan keabadian sesuatu itu. Persoalan ini telah dibahas secara meluas dalam filsafat. Tema ini telah ditegaskan dalam dua bentuk argumen, argumen empirik dan argumen filsafat. Untuk lebih detail silahkan lihat: Ushul-e Falsafeh wa Rawasye Realism, jil.3, Allamah Thabathabai, pengantar dan catatan kaki oleh Syahid Muthahhari, hal. 111-121, dan Nihayatul Hikmah, Allamah Thabathabai, hal. 326.


Oleh : Isyraq
http://www.alhassanain.com/