Wahai sahabatku yang mengaku Muslim, dengarkan sabda Baginda Rasul berkenaan dengan seorang Muslim, “Orang Muslim adalah dia yang Muslim lain terbebas dari gangguan tangan dan lidahnya.” Mengapa kita—saya dan Anda—mengganggu, mengusik dan menyakiti orang yang derajatnya bawah kita, dengan berbagai cara? Mengapa kita tidak pernah jera berbuat aniaya terhadap mereka, bahkan merampas hak mereka tanpa dasar? Sampai-sampai, bila tangan kita sudah tidak dapat menjangkau mereka, kita melakukan gangguan terhadap mereka melalui lidah kita, dengan membongkar rahasia-rahasia dan menyingkap segala hal yang selama ini mereka sembunyikan, mengumpat di belakang mereka serta membuat tuduhan-tuduhan palsu terhadap mereka?
Semua ini berarti bahwa klaim keislaman kita—yang tidak pernah membuat saudara-saudara Muslim kita selamat dari gangguan tangan dan lidah kita—bertentangan dengan kenyataan hidup kita yang sebenarnya. Keadaan batin kita bertentangan dengan kenyataan lahiriah kita. Dan ini membuktikan bahwa kita termasuk golongan orang munafik dan bermuka dua.
Wahai jiwa penulis lembaran-lembaran yang hina ini, yang berpura-pura seakan-akan berpikir tentang cara keluar dari hari-hari gelap serta keselamatan dari kesengsaraannya! apabila kamu benar dan hatimu selaras dengan lidahmu, dan realitas batinmu cocok dengan penampilan lahiriahmu, maka mengapa engkau begitu lalai, hatimu begitu memburuk, dan nafsumu begitu kuat? Mengapa engkau tidak berpikir tentang perjalanan kematian yang sangat penuh dengan risiko?
Usiamu telah berlalu cepat, tetapi engkau belum melepaskan nafsu dan keinginanmu. Engkau telah menghabiskan hari-harimu untuk memuaskan hawa nafsu dalam kelalaian dan kesengsaraan. Saat kematianmu terus mendekat, sementara engkau masih terjerat dalam perilaku burukmu dan terbiasa dalam perbuatan tak senonohmu. Engkau adalah jiwamu, seorang pemberi nasihat yang tidak mengambil pelajaran dari nasihatnya sendiri. Engkau termasuk kaum munâfiqûn dan bermuka dua. Jika engkau terus menerus dalam keadaan tersebut, maka engkau akan di kumpulkan dengan dua lidah api dan dua wajah dari api.
Oh Tuhan, sadarkan kami dari serangan tidur pulas yang berlarut-larut ini, sadarkan kami kembali dari keaddaan mabuk dan kelalaian ini. Sinarilah hati kami dengan cahaya keimanan dan rahmatilah keadaan kami. Ulurkan tangan-Mu kepada kami, dan tolonglah kami supaya terlepas dari cakaran iblis dan hawa nafsu, demi hamba-hamba pilihan-Mu, Muhammad dan keluarganya yang suci, semoga shalawat Allah dilimpahkan atas mereka.[]
Kamis, 24 Februari 2011
YA RASULULLAH . . .
Assalamu 'alaika ya Rasulullah
Assalamu 'alaika ya Habiballah
Assalamu 'alaika ayyuhan Nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh
Ya Rasulullah, pada detik-detik terkhir hidupmu suara paraumu kalah oleh teriakan sahabat2mu.
Ya Nabiyallah, dgn santun dan penuh kasih kau didik mereka.
Kau persembahkan semua yg kau miliki untuk mereka
Bemalam-malam kau terjaga. Kau berdiri lama, sampai bengkak2 telapak kakimu!
Kau basahi mukamu dan janggutmu dengan deraian air matamu.
Dan dalam doa2mu kau sebut2 umatmu, kau gumamkan kami.
Kau merintih dihadapan Allah yg Mahakasih,
kau berkali-kali memohon kebahagiaan bagi umatmu, bagi kami semua.
Seakan tak ada yg kau pikirkan sampai sat penghabisan, selain kebahagiaan kami sekalian.
Pada detik2 terakhir bibir sucimu bergetar sambil bersabda :
"I'tuni bishahifatin wa dawat, uktub lakum kitaban lan tadhilu ba'dahu abadan"
Sekarang, apa yg kami lakukan kepadamu?
Pada detik2 terakhir hidupmu, dengan demam yg mengguncang tubuhmu.
Kau hanya meminta satu dari kami, permintaan terakhir.
Bukan untuk kepentinganmu, bukan untuk keselamatanmu
Tapi untuk kepentingan umatmu, untuk keselamatan kami semua
Ya Nabiyallah, permohonan terakhirmu itu tidak kami penuhi.
Sahabat itu malah membentakmu. kami ribut bahkan menuduhmu "meracau!" di hadapan hadiratmu.
Dirumahmu yg suci, kami campakkan permohonanmu yg agung. Umat macam apakah kami ini,
Ya Rasul Allah! Maafkan kami ya Rauuf ya Rahiim!
Taburkanlah kasihmu pada kami, ya Nabiyyar Rahmah!
Assalamu 'alaika ya Habiballah
Assalamu 'alaika ayyuhan Nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh
Ya Rasulullah, pada detik-detik terkhir hidupmu suara paraumu kalah oleh teriakan sahabat2mu.
Ya Nabiyallah, dgn santun dan penuh kasih kau didik mereka.
Kau persembahkan semua yg kau miliki untuk mereka
Bemalam-malam kau terjaga. Kau berdiri lama, sampai bengkak2 telapak kakimu!
Kau basahi mukamu dan janggutmu dengan deraian air matamu.
Dan dalam doa2mu kau sebut2 umatmu, kau gumamkan kami.
Kau merintih dihadapan Allah yg Mahakasih,
kau berkali-kali memohon kebahagiaan bagi umatmu, bagi kami semua.
Seakan tak ada yg kau pikirkan sampai sat penghabisan, selain kebahagiaan kami sekalian.
Pada detik2 terakhir bibir sucimu bergetar sambil bersabda :
"I'tuni bishahifatin wa dawat, uktub lakum kitaban lan tadhilu ba'dahu abadan"
Sekarang, apa yg kami lakukan kepadamu?
Pada detik2 terakhir hidupmu, dengan demam yg mengguncang tubuhmu.
Kau hanya meminta satu dari kami, permintaan terakhir.
Bukan untuk kepentinganmu, bukan untuk keselamatanmu
Tapi untuk kepentingan umatmu, untuk keselamatan kami semua
Ya Nabiyallah, permohonan terakhirmu itu tidak kami penuhi.
Sahabat itu malah membentakmu. kami ribut bahkan menuduhmu "meracau!" di hadapan hadiratmu.
Dirumahmu yg suci, kami campakkan permohonanmu yg agung. Umat macam apakah kami ini,
Ya Rasul Allah! Maafkan kami ya Rauuf ya Rahiim!
Taburkanlah kasihmu pada kami, ya Nabiyyar Rahmah!
Langganan:
Postingan (Atom)